Hello World

J'écris parce que j'aime lire

Data dan Privasi Kita di Dunia Maya

Lagi nak enak tiduran, eh mba-mba bagian Resolusi Tokopedia nge-WhatsApp nanya soal web. Aku kira mau buat web atau gimana ya, eh taunya malah suruh ngapus web (blogger) yang katanya memalukan.

Aku buka link blognya.

Njay! HAHAHAHAHA, alay dan malu-maluin banget emang!!

**

Backstory:

Entah karena kesurupan setan apa, mba-mba bagian Resolusi Tokopedia ini ceritanya kemaren-kemaren iseng ngetik nama lengkapnya sendiri di kolom Search Google. Dia kaget, nemu data identitas, akun medsos, dan tulisan-tulisan konyol pas jaman dia masih jadi mahasiswa.

Mungkin karena dia udah kerja di start-up dan tau pentingnya Data Digital dan Internet Privacy sih ya, jadi dia mulai beresin hal-hal yang gak penting yang muncul di Search Engine. Gak ada NSFW items sih, cuma ya kalo aku jadi dia juga malu sama tulisan-tulisannya yang alay. Ih, lengob banget yakin! 😀

Long story short, dia minta tolong aku buat hapus webnya. Tapi karena lupa password akun dan username, dia gak bisa akses. Setelah diskusi sana sini, ngecek history, sempet mau ngebobol webnya juga, Alhamdulillah nemu akun+password Gmail. Sekarang udah ilang deh.

 

Lesson learned:

Internet emang disruptif banget. Perkembangan teknologi yang begitu cepat, akses Internet yang luas, dan environment penunjang yang menudukung membuat hidup kita semakin mudah. Gak perlu dijelasin kan ya, kemudahan apa aja yang kita temui dengan Internet.

Sayangnya, kita gak sadar kalo sebenarnya selalu ada sisi positif dan negatif dari sesuatu. Internet ini, selain membantu hampir segala aspek hidup kita juga sebenarnya sangat berbahaya. Yang perlu digaris bawahi bukan Internetnya yang berbahaya. Tetapi data yang kita unggah ke Internet.

Okay, wajar kalau ada yang skeptis dan gak peduli tentang data yang mereka share/unggah di Internet, baik itu ke Gmail, Sosial Media, E-commerce, atau bahkan Aplikasi Android. Itu hak kalian masing-masing. Lagian apa sih, cuma foto, alamat, tulisan, nomer telepon, password email, siapa yang mau pakai?

Those things might pop up in your mind. But the truth is, your data is money! Sebelum membahas tentang privasi di Internet, kita perlu tau bagaimana data kita digunakan oleh perusahaan teknologi.

Let me explain a brief story I know from a book.

Big Data

Kita ada di masa transisi dari masa industri ke masa digital. Di masa depan, gak akan heran jika ada banyak teknologi yang sekarang cuma bisa kita liat di film-film. It’s only matter of a time.

Kalau di jaman industri, minyak dan hasil bumi jadi sebuah komoditas menguntungkan. Di jaman digital, data memiliki nilai yang jauh lebih berharga dari minyak. Gak heran kalo di majalah The Economist pas Mei lalu ada artikel dengan judul “The World’s Most Valuable Resource Is No Longer Oil, but Data”. Gak heran juga kalo harga saham Google lebih tinggi dari British Petroleum. Coba deh tambahin kata ‘stock price’ di belakang kata Google dan BP, terus liat sendiri harga saham keduanya.

Mengutip frasa terkenal dalam konsep ekonomi “there ain’t no such thing as a free lunch.” Sebenarnya gak ada yang gratis di Internet. Semua itu bayar! Cuma kita pilih, kita bayar cash atau menyerahkan data kita secara sukarela.

Contoh, Google menyediakan fitur surat elektronik bernama Gmail. Kita daftar secara ‘gratis’ padahal sebenarnya kita sudah menukarkan data diri kita sebagai pengganti uang pendaftaran. Ini contoh nyata dari konsep “Data is the new currency”. Jadi sebenarnya, di setiap aplikasi atau akun sosial media yang kita gunakan, mereka menggunakan data kita untuk mencari keuntungan di bidang lain.

Kalau aku sih percaya perusahaan seperti Google gak akan main-main dengan data pelanggannya. I believe that they take advantages out of it, but they won’t use it to deceive its customers.

Nah, sekarang bayangkan kalau ada orang atau perusahaan jahat yang ngambil data dan identitas, lalu menjual atau memanfaatkan database tersebut. Modyar rak koe? Beruntung kalau cuma kena spam promo atau diskon, aku soalnya pernah akun AdSense dihack orang gara-gara buka pakai Wifi gratisan di Buntos. Untuk nominal uang di akun itu gak terlalu banyak. Tapi kan kzl! Jadi, hati-hati aja kalau email yang dipakai terintegrasi dengan akun ibanking, PayPal, AdSense, atau platform pembayaran lain.

Pernah ada juga yang broadcast gak jelas di grup WhatsApp. Modelnya berbentuk survey dan users harus mengisi email untuk bisa dapet diskon yang sampai 70% sepatu Adidas. Edan gak? Scam dan phising model gini ternyata masih laku dan banyak orang yang dengan sukarela setor data mereka.

Di perusahaan besar, data pengguna yang mereka miliki juga diolah untuk mengimplementasikan kebijakan perusahaan. Mereka mengumpulkan informasi seluruh users dalam sebuah Big Data.

Apa itu Big Data?

Big Data adalah sekumpulan data dalam jumlah besar yang terkomputerisasi. Dari data tersebut, kita bisa melihat trend, pola, perilaku (behavior), hingga ke asosiasi. Istilah ini pun baru muncul beberapa tahun yang lalu saat revolusi Internet baru dimulai.

Dari Big Data, tercipta pula lapangan pekerjaan baru yang sebelumnya belum ada; Data Scientist, Growth Hacker, Big Data Analyst, sampai Millennial Generational Expert. Biasanya, perusahaan teknologi sudah membuka lowongan untuk posisi tersebut. Tugas mereka adalah menggunakan data yang dimiliki perusahaan untuk melihat trend para users, melihat perilaku dan kebiasaan yang dilakukan users, mengamati pola, dan asosiasi users dari satu platform ke platform lain.

Dari pengamatan data yang mereka miliki, mereka akan menentukan arah masa depan perusahaan baik itu lewat strategi marketing, menambah users, dan hal lain yang dapat menguntungkan perusahaan.

gambar buku the power of habit

Dari buku The Power of Habit yang aku baca, ternyata Target pernah ‘mengeksploitasi’ – bahkan sebenarnya sampai sekarang- data pelanggannya di tahun 2000an. Target meluncurkan Kartu Pelanggan untuk semua member sehingga setiap transaksi yang dilakukan akan tercatat di database.

Selanjutnya, Target akan menyebar brosur dari pintu ke pintu yang berisi promo barang mingguan. Sekilas bentuknya memang sama, tapi sebenarnya, setiap pelanggan mendapatkan selebaran yang berisi promo barang yang berbeda. Beda sama brosus Indomart yang isinya samaaaaaa semua. Barang yang ada di brosur tersebut ditampilkan sesuai dengan kebiasaan pelanggan saat berbelanja di Target. Hasilnya, keuntungan perusahaan ritel ini menginkat pesat sejak mempekerjakan ahli matematika dan ahli statistika pertamanya.

Kamu tau Foursquare? Awalnya, Foursquare merupakan start-up kecil yang menawarkan check-in lokasi yang bisa terintegrasi dengan sosial media Facebook dan Twitter. Kek fitur Location di Instastory gitu. Tapi setelah trend Big Data muncul, perusahaan yang hampir bangkrut ini sadar bahwa mereka masih bisa hidup dan bahkan menjadi perusahaan kaya.

Foursquare ternyata punya data lengkap tentang tempat-tempat yang ramai dikunjungi, jalan-jalan yang selalu ramai tiap hari, lengkap dengan data hari, jam, sampai jenis OS smartphone users-nya. Tentu saja Foursquare punya informasi tentang usia, gender, dan pekerjaan yang bisa memperkaya variable data mereka. Foursquare menjual data ini ke marketing perusahaan Billboards (papan reklame) yang akhirnya mengolah data ini untuk menentukan lokasi strategis untuk memasang iklan.

Dari data yang tersaji, mereka memilih jalanan yang ramai, restoran dekat perempatan, taman kota, bahkan tepi sungai yang potensial. Dari data tersebut mereka juga bisa memilih jenis iklan apa yang sesuai untuk dipasarkan. Perusahaan seperti Nike, SAMSUNG, hingga restoran kue lokal di Denver juga ikutan beli data yang dimiliki Foursquare untuk keperluan marketing.

Sekarang, tau kan sebenarnya data yang kita sebar di Internet itu dipakai untuk apa?

It’s Funny When People Talk about Privacy on the Internet

Buat mba-mba dari bagian Resolusi Tokopedia ini, dia tau kalau privasinya terancam kalau sampai anak-anaknya nanti tau betapa alaynya beliau ini waktu muda. Makannya, dia hapus semua hal berbau alay yang dulu-secara-sadar-ia-sebar di Internet. Dia sadar bahwa semua yang kita unggah akan terekam dan kekal di dunia maya.

Sebenarnya percuma juga kalau akun IG atau Twitter digembok, foto-foto di Facebook di-hidden, atau menghapus komentar/tulisan hate-speech karena sebenarnya tidak ada yang benar-benar hilang di Internet. Asal tau caranya, kita bisa melihat kembali semua footprint yang udah kita buat di dunia maya.

Coba aja ketik nama kamu di kolom search Google, liat aja hasilnya. Ya kalau yang muncul adalah hal-hal yang baik, kalau yang muncul hal-hal yang kurang baik? Repot men!

Dulu aku udah pernah coba ketik nama sendiri di kolom search Google. Hebat sih, muncul nama register domain, sosial media, alamat rumah, couchsurfing, bahkan data NIM kuliah. Tadi sempet cek juga di halaman selanjutnya ada data KKN Pos Daya 2014 sampai masuk di kategori Pelamar PDAM 2012.

Mungkin karena namaku pasaran, jadi kecampur sama nama Anang lain yang lebih terkenal, Anang Hermansyah contohnya. Coba aja kalau nama kamu unik, kaya Vitas Giri Luke misalnya. Nama kaya gitu kan gak ada similarity-nya dengan orang lain, jadi kemungkinan data yang tersaji bisa lebih spesifik.

Aku pernah denger kalau beberapa perusahaan juga mempertimbangkan rekam jejak calon karyawannya dari sosial media. Perusahaan menganggap bahwa untuk mengetahui sisi emosional karyawan itu bisa lihat sosial medianya. Kita kadang terlalu jujur di sosial media, entah itu curhat ngasal, ikutan komen nyinyir, atau share artikel yang belum tentu kebenarannya.

Udah banyak juga kasus leaked video ataupun foto para artis yang tersebar atas dasar kekejaman dunia maya. Seperti tulisan Pungky ini, alasan kenapa dia Stop Upload Foto Wajah Anak ke Dunia Maya. Dia juga punya alasan kuat mengapa dia gak pernah share foto anaknya di sosial media.

Jadi, sebelum posting sesuatu di dunia, mbok yo dipikir dulu baik-buruknya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *