Hello World

J'écris parce que j'aime lire

Mau Kerja, Apa Bikin Usaha?

I’m neither expert nor experienced in business. Tapi kita gak harus nunggu kaya untuk berbagi, kan?

Jadi pengusaha, atau seenggaknya punya usaha memang bukan perkara mudah. Tapi juga gak susah-susah amat, sih. Semua tergantung niat. Contohnya, kaya pas aku bikin tulisan ini. Awalnya susah. Bingung mau nulis apa. Tapi karena emang udah diniatin malem ini ada 1 postingan, ya lanjut aja.

Beberapa orang memiliki usaha karena terpaksa. Ada juga yang emang dari awal udah niat usaha, punya usaha tepatnya. Mungkin mereka yang terpaksa bikin usaha, mereka punya masalah ekonomi yang menuntut untuk mencari ladang penghasilan baru. Sedangkan mereka yang niat dari awal untuk punya bisnis, ya emang niat. Apa lagi, coba?

Tulisan ini sebenernya anu hasil obrolanku sama temen yang lagi bingung –abis lulus kuliah mau kerja atau bikin usaha aja, ya?

“ya embuh.” HAHAHAHAHA~

Lha kan tiap orang punya orientasi masa depan yang beda-beda. “yang penting kamu hidup dan melakukan sesuatu yang kamu sukai.” Itu emang prinsipku dari dulu.

Itu juga yang bikin aku berenti kuliah dan mulai merintis usaha. #yanginijanganditiru #pendidikanitupenting #yekan

this is us

Oke. Let’s start the topic.

Di dunia bisnis –in any fields, mindset itu penting. Aku percaya kalo what we think is what would gonna be. Tanya aja orang-orang hebat, sukses itu udah harus ada sejak dalam pikiran. Hal itu juga yang mendorong mereka untuk tetap berkomitmen untuk menjalani semuanya walau berat.

Aku tau, cuma dikit orang yang berani buat dagang atau bikin usaha sendiri. Entrepreneur is a roller coaster ride. Perputaran hidup yang kadang-di-atas-kadang-di-bawah itu cepet banget kalo jadi pengusaha. Itulah alasan kenapa hanya sedikit orang yang berani buat menempuh jalur ini. It’s because not everyone has the guts to take the seats on the roller coaster.

Alasannya sepele, kita, manusia, selalu ingin ada di titik nyaman. Mana ada yang mau idup sengsara?

Tapi kabar baiknya, Alloh itu Maha Adil. Ini juga prinsip yang selalu aku pegang. We all have financial problems!

Yang suami-istri PNS Pajak dengan THP lebih dari 20 juta per bulan, mereka punya masalah keuangan. Yang suami-istri punya jabatan strategis di BUMN, mereka juga punya masalah keuangan. Apalagi yang suami-istri sama-sama punya usaha, mereka juga pasti punya masalah keuangan.

The thing is, we have (or will have) financial problems throughout our life. Jadi yang bilang “Aku takut buat dagang, soalnya pendapatannya gak tetep. Nanti gak bisa nyukupi keluarga.” That’s the crappiest shit I’ve ever heard.

Life always has its up and down, dude. Gak ada yang namanya long-last comfort zone!

Jadi, setelah lulus kuliah mau kerja atau jadi pengusaha? Ya terserah koe bae nganah hahahaha sing penting koe seneng. Loh, ya iya koh. Kamu yang lebih tau arah dan tujuan hidupmu, bukan Buni Yani.

The Stages of Serial Entrepreneur

Tapi nih, kalau emang punya niatan buat usaha. Ya coba aja! Gak ada salahnya buat meletakkan gelar sarjana dan merintis usaha sendiri. Atau membuat usaha sambil tetap menjadi karyawan, bebas! Punya usaha kecil juga gak apa-apa kok.

Ini sih share pengalamanku aja, siapa tau bisa bantu meyakinkan teman-teman yang memang punya niatan usaha tapi belum berani buat mencoba.

  1. Ingat Kata Bob Sadino

*googling dulu, lupa kata-kata beliau*

Nah, ketemu!

Setinggi apapun pangkatmu, Anda tetap pegawai. Sekecil apapun usahamu, Anda adalah bosnya.

Iya sih klise banget! Kadang emang lebih enak jadi pegawai Bank daripada pemilik franchise kuliner pinggir jalan. But on the brightside, you are the captain of your ship. Cuma dikit orang yang berani menempuh jalan yang terjal ini.

Emang enak jadi pegawai Bank. Gaji tetap. Kerja di ruang AC. Kalo ditanya tetangga, bisa dijawab dengan bangga, yekan? Apalagi? Oiya kalo mujur bisa dapet kendaraan operasional. Lha kalo mas-mas yang punya franchise pinggir jalan? Kucel. HAHAHAHA

Tapi nih, mari kita coba kalkulasi.

Taruhlah pegawai Bank memiliki gaji Rp 5.000.000,- setiap bulan. Dalam 1 tahun, dia dapet fixed income, sekitar 70 juta. Betul?

Nah kalo punya usaha sendiri? Boro-boro 1 taun dapet 70 juta. Gak tekor tiap bulan aja udah sujud syukur. Tapiii, tapi nih, entrepreneur is a long marathon with no finish line. Kita gak tau kapan bisnis kita akan berkembang. Bisa aja setelah kebangkrutan pertama, kita mulai menemukan alur yang pas dan perlahan punya bisnis yang berkembang.

Kalau jadi pengusaha, sukses itu bisa datang kapan aja. Yang penting jangan pernah menyerah. Kita gagal karena kita berhenti dan menyerah. Kalo kita gagal dan berhenti, yaudah, finish line kita itu kegagalan.

Ingat, kita gak tahu kapan sukses akan datang, tapi kita tau saat dimana bisnis kita gak berkembang. Dan disaat itulah, kita harus cari celah gimana bisa mempertahankan lini bisnis kita.

We are the Captain. We know when the ship is going down and what should we do to keep the ship floating..

Mungkin kita gak dapet income yang sama dengan pegawai Bank di tahun pertama, tapi di tahun tahun berikutnya –jika kita berusaha, belajar dari kegagalan dan bekerja keras, bukan gak mungkin kita bisa lebih kaya di tahun-tahun berikutnya. Sedangkan di saat yang bersamaan, pegawai Bank tersebut masih berkutat di angka gaji yang sama. Pernah baca riset, kenaikan UMK itu rata-rata 2% per tahun. Sedangkan kebutuhan hidup tiap orang punya peningkatan yang berbeda-beda, ada yang sama 2% ada juga yang lebih dari 182%. Namanya juga idup, yekan?

Okay, mungkin ada faktor lain; rejeki. But as an entrepreneurship, we need to assess our income by performance. Rejeki itu urusan nanti. Udah ada yang ngatur. Jadi, jangan bawa-bawa rejeki dulu ya. Soalnya kalo apa-apanya ‘lah kan rejeki!’ yaudah kelar urusannya. Yang namanya rejeki itu kan dicari dulu, ikhtiar disertai doa.

Bagian paling ngehe saat buka usaha adalah, ‘ini bakal laku gak ya?’.

Salah satu ketakutan terbesar pemula adalah ketidakmampuan untuk balik modal. Wajar kok, udah jadi human nature kalau kita tuh maunya selalu untung. Kita belum punya mental buat terbiasa dengan kekalahan.

Tapi kalau ngomongin soal laku apa enggak, ini soal teknis. Bisa diatur. *remember the part when I told you to put the Rejeki-factor behind?* Ya, rejeki sama soal-laku-enggaknya usaha kita tuh bisa diatur.

Rejeki biar Dia yang atur. Nah laku-enggaknya, kita yang atur.

Prinsip jual makanan, yang penting enak. Gak perlu muluk-muluk dulu. Jual makanan yang enak pasti laku meski butuh waktu. Sate Klathak yang cuma lemprakan di pinggir jalan aja banyak yang rela antri buat beli kok.  Kalo jualan makanan yang enak, pasti pelanggan gak bakal ragu buat kasih promosi gratis ke teman-temannya. Pasti pernah kan, dateng ke tempat makan yang tempatnya nyungsep, tapi larisnya minta ampun?

Prinsip jual barang (fashion), jauh lebih kompleks karena ada beberapa faktor yang perlu kita tahu; trend, harga, persaingan.

Trend ini susah diprediksi. It’s like when the table turned, kita gak tau kapan akan ada model baru atau kapan model ini akan bertahan. But who cares? Kalo jualan barang (fashion) tuh kadang momentual.

Sell as much as you can while it last because we never know when it is over. Kalo momentual tuh yang penting sekarang, bodo amat urusan nanti. Selama kita punya barang, tau harga dan persaingan, kita bisa meraba trend suatu produk di masa depan secara perlahan.

Kita gak akan pernah tau titik kulminasi suatu produk sampe kita nyoba buat cari tau sendiri. Mending nyesel karena udah nyoba dan gagal daripada nyesel gak manfaatin momen buat jual barang sebanyak-banyaknya.

Toh modal yang kita keluarkan itu sama dengan investasi ilmu jualan. Pengalaman yang kita punya sekarang, akan bantu kita saat pegang bisnis yang lebih besar. At least, we know what it feels like to be the winner and loser. Jadi kalau di masa depan ada trend baru, kita udah punya pengalaman buat bersaing di pasaran.

Di awal buka usaha, mungkin kita cuma punya usaha yang kecil. Receh banget. Tapi bukankah 100 juta juga dimulai dari 100 ribu? And remember what Bob said!

  1. Jalani Aja

Usaha, dagang, bisnis, or whatever you call it, itu kaya orang lagi pacaran. Ya jalani aja dulu. Perkara di tengah jalan gak suka, kan bisa cari yang lain. Kalau cocok ya sampe nikah. Sama kaya usaha. Kalau di tengah jalan gak cocok, ya coba ganti usaha yang lain.

Kalau di fase pertama kita harus mikir mau punya usaha apa, di fase selanjutnya kita harus mulai menjalani bisnis kita. What Im trying to say is; jangan mikir untung dulu. Yang penting bisnis bisa bertahan. I know I’m lying if I’m not money-oriented, tapi sebisa mungkin kita bisa balik modal dulu agar bisnis jalan terus.

Jadi kalau punya bisnis, di awal-awal tuh mending mikir gimana uang yang masuk itu memenuhi standar biaya operasional. Jadi misal nih, kita jualan Cimol. Modal buat dagang Cimol Rp 50.000,- per hari. Nah berarti yang penting kita dapet uang segitu buat produksi barang.

Gak untung gak apa-apa, yang penting dapet uang yang bisa diputer buat jualan hari esok. Nah, dari day-to-day income itu, kita bisa tau pola jualan Cimol yang bener.

Kebetulan sekarang punya usaha di bidang jasa, agensi digital. Co-Founderku tuh profit oriented. Nah kalau aku lebih fokus ke growth daripada untung (mungkin karna bisnis ini sama-sama side project kita). Alhamdulillah kita saling melengkapi.

Kalo aku mikirnya, yang penting usaha ini jalan dulu 1 taun. Itu adalah waktu yang cukup buat nyoba berbagai teknik marketing, nyoba buat benerin tim, juga nyoba buat handel pelanggan, nyoba buat belajar berbagai hal. Belum untung gpp, yang penting bisnis jalan. Dan Alhamdulillah tetep untung, walau awalnya kecil.

Setiap orang pasti punya kebutuhan, pemikiran dan strategi yang berbeda. Jadi silahkan tetapkan target minimal yang harus dicapai guna mempertahankan bisnis yang dijalani. Gak harus 1 tahun, karena tiap bisnis juga punya trend, kompetitor dan potensi yang berbeda.

Mindset ini penting. Profit tuh penting. Tapi bisa mempertahankan usaha juga gak kalah pentingnya. Gimana mau untung kalau usaha aja gak jalan? Ya jalani aja dulu lah…

  1. Scale Up

Scale up tuh gimana jelasinnya ya? Intinya, bisnis tuh harus berkembang. Yang tadinya cuma bisa bertahan, sekarang mikir gimana caranya biar bisa untung. Yang tadinya untung seribu, sekarang mikir gimana caranya bisa dapet untung seratus ribu. The point is how and what we should do to convert the growth into profit, profit into more profits.

Nah, naik kelas!

Kalau kita udah bisa bertahan sesuai target jangka waktu, pasti tau dong buat naikin omset? Misalnya dalam 1 tahun usaha Cimol-nya berjalan, pasti ada banyak pelajaran yang bisa didapat untuk mengembangkan bisnis.

Ada beberapa hal penting yang harus kita tau sebelum scalling;

  • Marketing

Kita harus tau apakah marketing yang selama ini kita lakukan berhasil apa enggak. It’s important to know where our customers know our products. Dari sini kita tau, apakah mereka membeli produk kita karena liat iklan berbayar, wourd of mouth, atau karena kecewa setelah pakai produk kometitor dan akhirnya memilih produk kita. Setelah tau strategi marketing yang pas, coba fokus ke situ dan cari cara marketing baru.

Kita jadi tau mana Cold Market, orang-orang yang harus dikasih tau bahwa kita punya produk. Kita juga jadi tau mana Warm Market, orang-orang yang udah tau produk kita, tapi masih pikir-pikir buat beli produk kita. Dan kita juga jadi tau mana Gold Market, orang yang udah pernah beli produk kita dan akhirnya jadi pelanggan tetap, atau bahkan ngasih tau ke orang lain tentang produk kita. Start scalling, bruh!

  • Product Engagement

Ini bagian penting lainnya. Kalau kita jual makanan, kita harus tau apakah makanan yang kita jual itu enak apa enggak. Apa sih yang bikin pelanggan memilih produk kita? This is how you keep the loyal customers come back again and again. Dari sini kita juga tau, kenapa kompetitor kita lebih sukses dari kita. Start stealing!

  • Internal Team

Dan ini yang paling penting! Orang-orang (tim) yang bikin usaha kita jalan juga bisa mempengaruhi kualitas produk dan perkembangan bisnis kita. Kalo kata mas Rama Notowidigdo, CTO-nya GO-JEK, kita juga harus mikir employee’s satisfaction. Kalau internal tim kondusif, mau bikin produk atau bikin usaha kaya apa juga pasti jalan. Jalan loh ya, untung mah perkara nanti. Kalau diantara orang dalem ada yang gak becus, ganti. Kalau ada orang dalem yang kerjanya beres, apresiasi.

Jadi, those are important things that we need to accomplish before we scale up the business. Prakteknya bakal ribet, tapi asik karena kita bosnya hahahaha..

Duh, nulis apa lagi ya.

I know that it is easier said than done. Aku juga masih sering ngrasa takut dan mikir gimana kalo suatu saat bisnisku gak jalan? But that what keeps me and other entrepreneurs feel alive, motivated, and also keep learning new thingsto grow.

Kita emang gak akan tau seperti apa kehidupan kita di masa depan, but hey, itu urusan nanti. Toh, masa depan juga tergantung apa yang kita lakukan sekarang. Once more, I’m not trying to be expert or teach you how to do it because I’m also still learning how to survive in this cruel world. And feel free if you want to share your opinions or experiences about your business because I still need a lot of advices and suggestion too!

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *