Hello World

J'écris parce que j'aime lire

If We Share Something before Fact-check, We Could Have a President like Donald Trump

Tadi sempet buka Timeline dan liat akun politik yang ngoceh soal ‘Demo Bela Agama di Nusantara Sejak 1918’ di Twitternya mas @InsideErick  and I thought, kenapa gak ditulis di blog aja?

Well, here it goes.

Kemenangan Donald Trump jadi The President of the United States emang sempet bikin geger. Siapa yang nyangka kalo Ameriki segoblo itu?

Kurang tau persis tentang duduk perkaranya, tapi yang jelas, Google dan Facebook jadi salah satu sasaran kemarahan kemenangan Trump karena fake news yang bikin swinging-voters akhirnya milih Trump di akhir-akhir pemilu. [here’s one of the links: businessinsider.co.id]

Ini menarik, karena makin kesini, banyak Spammer yang memanfaatkan pemilu untuk meraih dollar. Dan ternyata gak cuma di Indonesia aja, spammer Makedonia pun ikut campur dalam pemilu Amerika. [here’s one of the links: ww.pri.org]

Di Indonesia sendiri, ada orang yang ikut terjun di dunia politik. Bukan sekedar pemain Blackhat, tapi ikut jadi sayap politisi. We know it as Jonru, for instance.

Di sisi lain, mas Jon dapet penghasilan tambahan dari koar-koarnya di media digital. Dan di sisi lainnya lagi, dia punya banyak penggemar yang akan jadi portofolio pas ada politisi yang butuh jasa buzzer pemantik api di kemudian hari.

How to Drive Traffic from Facebook with Fake News

Sebenernya ini cara lama, dulu pernah popular di beberapa forum blackhat luar. Dan sekarang mulai ramai karena para spammer tau kalo dunia politik itu kaya Papua Nugini (baca: tambang emas!). Nah, pas Facebook jadi media bertukar berita dan tempat kumpulnya grup pembela Ahok, AHY, dan Anis & San Diego, spammer pakai cara lama yang hampir aja gak kepake lagi; generating traffic with fake news.

Caranya gampang kok, kita bisa mulai dengan listing dulu grup terbuka atau grup tertutup tentang pendukung para calon Gubernur DKI (saya contohin soal pemilu DKI aja ya, yang lagi rame). Buatlah sebuah daftar grup Facebook yang berisi para pendukung, mulai dari Teman Ahok, Agus-Sylvi, Anis-Uno, Pro Prabowo, Jokowi-JK, you name it. Simpan di note. Tata yang rapi sesuai kategori Cagub dan Cawagub.

Langkah selanjutnya, bikin akun Facebook palsu. Berapa? Sebanyak-banyaknya!

Loh, bukannya kalo bikin Facebook tuh harus pakai Email? Harus konfirmasi email juga? Lha terus kepriwe?

Gampang.

Here you go, kamu dapet email palsu yang hanya berlaku beberapa menit aja!

Nah terus, pake deh tuh alamat email buat bikin 1 akun Facebook, gak perlu saya jelasin kan cara buat akun Facebook?

Segera buat profile Facebook lengkap dengan foto, alamat palsu, pokoke profile diisi lengkap men ora disuspend mas Mark! Biasanya, spammer bikin Facebook dengan foto cewe. Pake gambar seksi. This is how they grab the first impression on Social Media.

Nah, ini bagian melelahkan, tapi worth it (bagi spammer). Kita harus bikin akun Facebook sebanyak-banyaknya! Dan sortir sesuai dengan kategori grup pendukung Cagub-Cawagub yang udah kita list. Tujuannya, biar jelas, mana akun untuk bela Ahok, mana akun untuk bela anaknya pak SBY, dan mana akun yang mau dipake untuk bela Mas Anies.

Akun Facebook palsu tersebut juga dimasukkan (join) di grup-grup pembela para Cagub-Cawagub, sesuai kategori.

Selanjutnya, copas berita politik dari berita online besar, seperti Kompas, Detik, Viva, dan lain sebagainya. Jangan lupa, ganti judul dengan kata-kata yang click-able, provocative, kata-kata yang bikin para pendukung cagub nge-klik artikel. Kalau nuranimu udah gak ada, sekalian plintir isi berita dan bawa nama agama, bawa nama ormas Islam, apapun, pokoknya yang bikin para pendukung kebakaran. Contoh judul;

Astaghfirulloh, Ini Kata-Kata Ahok yang Melecehkan Umat Islam! Sebarkan, atau Kamu Termasuk Golongan Orang Kafir

Kalau soal isi, boleh sama plek seperti sumber.

Nah, setelah punya 1 berita. Silahkan dipostingkan di website saudara. Gak perlu pakai domain berbayar (kalau gak pengin modal), cukup pake platform wordpress atau blogspot gratisan.

Setiap posting, misal tentang kasus penistaan agama oleh Ahok. Langsung disebar melalui grup para hatersnya, contoh di grup AHY-SLVY, anda posting artikel yang menjelek-jelekkan Ahok. And vice-versa!

Berhubung orang Indonesia termasuk orang yang inisiatif, maksudnya, baru baca judul aja udah main sebar berita, dijamin artikel tersebut bakal viral.

Asumsikan, 1 akun Facebook palsu join di grup dengan member 1.000 orang. Anda sebar 1 fake news di grup tersebut, anggap aja hanya ada 100 orang yang baca. Tapi dari 100 orang tersebut, semuanya share artikel itu di Timeline jejaring sosial mereka.

Itu baru 1 akun, spammer itu adalah para mas-mas yang rela bayar orang 1 juta rupiah buat bikin 100 akun Facebook palsu.

Itu baru 1 artikel, spammer itu adalah para mas-mas yang rela bayar orang 1 juta rupiah buat bikin 100 artikel copas.

Itu baru 1 website, spammer itu adalah para mas-mas yang rela bayar orang 1 juta rupiah buat bikin 10 website.

Dan itu saya asumsikan hanya 10% nya saja dari 1000 orang di sebuah grup Facebook yang baca dan share artikel. It’s a multiple effect. You do the math! This is a freaking business!

Spammer yang pernah pamer SS earning ke saya, per bulan bisa dapet MINIMAL $ 1,000 aja. Itu baru 1 website! Dia ternak banyak!

Kurang lebih, begitu gambaran besar gimana cara generate traffic dari Facebook pake berita palsu.

Nah, orang-orang kaya Jon itu udah punya masa. Udah punya karyawan juga. Karyawan yang produksi artikel dan nyepam, mas Jon dan porokonconya yang jadi ikon di medsos.

Bagi Spammer, ini lading basah. Bagi negara, ini pembodohan.

Okay, I’m not that nationalist person, but I hate people too stupid to understand which one is fake, and which one is real. I need to ensure that my child has future in this country.

Spammer yang udah main blackhat gini udah gak takut dosa. Gak mikir panjang. Taunya tiap tanggal 21 dapet notif di email bahwa payment issued.

Ini bukan retorika. Ini nyata loh, Amerika buktinya. Gara-gara fake news di Facebook, dunia ini punya presiden kaya gitu.

Lha kenapa Trump sama Ahok yang dijadiin bahan nge-spam? Karena mereka adalah orang yang dibenci. And spreading hate-speech is easier than spreading love. Apalagi bagi pendukung yang udah buta hati mata dan telinga.

Trump jadi presiden, spammer Makedonia yang kaya. Ahok dipenjara, hatersnya yang bersuka cita.

We Should Stop Spreading Fake News

Saya ingat tulisan Pandji Pragiwaksono, bahwa saat membaca berita, tolong beri kesempatan pada akal sehat untuk melihat dari 2 sisi yang berbeda. Mencerna berita. Dan mencari tahu data faktanya. Jangan cuma share aja.

Kalau ngajak orang lain buat melakukan hal ini itu susah, gak usah repot, mulai dari diri kita masing-masing aja. Dibiasakan. Biar anak-anak kita nanti hidup di bangsa yang damai. Saya ngeri bayanginnya.

Emang sih, Google dan Facebook lagi berbenah buat bikin algoritma yang akan menyaring fake news. I believe they can do that. Tapi ingat, di jaman dimana politik dan spammer udah mulai kerja sama, tujuan spammer bukan lagi generate uang dari Google, tapi langsung dari partai Politik. Jadi, pembodohan lewat pesan bodong berantai gak akan pernah musnah. Di masa depan saya yakin masih ada, walau dengan media sosial dan platform yang berbeda.

I’m not good at encouraging people to do good things. I just share what I know, you do the rest. Just…, just don’t be stupid because it could harm someone else. Not you. But, someone else.

Karena kebodohan suatu kaum, jangan sampai kita punya presiden kaya Donald Trump. #heyitsrhyme

(it could be) FAQ:

Reader: Did you do the trick?

Me: Yep, I did.

Reader: For money?

Me: No. A big no.

Reader: But, why?

Me: Sometimes we need to jump in the pool full of mud, just to know how dirty we are if we are inside that pool. Y'all know what I mean?

Reader: Make sense. Thanks.

Me: My pleasure, amigo. If there’s anything else you wanna ask, you can leave on the comment below.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *